Jangan Salah, Ini Peran Parenting Anak SD dalam Penjaskes
Jangan Salah, Ini Peran Parenting Anak SD dalam Penjaskes
Banyak orang tua menganggap pelajaran Penjaskes hanya soal berlari, bermain bola, atau sekadar waktu bebas di luar kelas. Padahal, parenting anak SD dalam Penjaskes punya peran yang jauh lebih dalam dari sekadar mendukung anak ganti seragam olahraga setiap minggu. Pola asuh yang tepat bisa menentukan seberapa jauh anak berkembang secara fisik, mental, dan sosial melalui mata pelajaran ini.
Tidak sedikit orang tua yang baru menyadari hal ini ketika anak mulai enggan ikut pelajaran olahraga, atau sebaliknya, terlalu takut cedera sehingga tidak mau bergerak aktif sama sekali. Dua kondisi ini sama-sama menunjukkan ada yang perlu diperbaiki dari sisi pendampingan di rumah. Penjaskes bukan mata pelajaran yang bisa berdiri sendiri tanpa dukungan lingkungan keluarga.
Di tahun 2026, kurikulum pendidikan jasmani untuk SD sudah semakin menekankan aspek karakter, kerja sama, dan kesehatan holistik — bukan sekadar kemampuan fisik. Artinya, anak yang mendapat dukungan parenting yang kuat di rumah akan lebih siap menghadapi tuntutan pembelajaran Penjaskes yang makin beragam ini.
Peran Parenting dalam Mendukung Tumbuh Kembang Anak Melalui Penjaskes
Membangun Kebiasaan Aktif Bergerak Sejak Dini
Fondasi anak yang mau bergerak aktif sebenarnya dibentuk jauh sebelum mereka masuk kelas Penjaskes. Orang tua yang terbiasa mengajak anak jalan kaki, bersepeda sore, atau sekadar bermain di halaman secara tidak langsung menanamkan kecintaan pada aktivitas fisik. Anak yang terbiasa bergerak di rumah cenderung lebih percaya diri saat mengikuti aktivitas di pelajaran olahraga sekolah.
Ini bukan soal mencetak atlet sejak kecil. Ini soal memberi anak pengalaman bahwa tubuh mereka mampu bergerak, dan bergerak itu menyenangkan.
Menyikapi Nilai dan Evaluasi Penjaskes dengan Bijak
Satu kesalahan umum yang dilakukan orang tua adalah terlalu fokus pada nilai akademik dan mengabaikan perkembangan di Penjaskes. Padahal, penilaian dalam Penjaskes di SD mencakup aspek afektif seperti kejujuran, disiplin, dan kerja sama tim — nilai-nilai yang justru dibutuhkan dalam kehidupan nyata.
Orang tua perlu meluangkan waktu untuk bertanya pada anak: “Tadi olahraga ngapain? Seru nggak?” Percakapan sederhana seperti ini menciptakan ruang anak untuk merefleksikan pengalamannya, sekaligus membuat mereka merasa kegiatan Penjaskes dihargai di rumah.
Kesalahan Parenting yang Justru Menghambat Perkembangan Anak di Penjaskes
Terlalu Protektif terhadap Risiko Fisik
Banyak orang tua — terutama di lingkungan perkotaan — yang terlalu khawatir ketika anak pulang dengan lutut lecet atau baju kotor setelah Penjaskes. Padahal, risiko fisik kecil seperti ini adalah bagian normal dari proses belajar motorik anak SD. Terlalu membatasi aktivitas fisik anak justru bisa membuat mereka kurang terampil secara gerak dan mudah cemas saat harus berolahraga.
Kuncinya bukan melarang, tapi mengajarkan anak cara bergerak aman: pakai sepatu yang tepat, minum air yang cukup, dan tidak memaksakan diri saat kelelahan.
Mengabaikan Nutrisi dan Istirahat Sebelum Olahraga
Penjaskes di SD sering dijadwalkan pagi hari. Tidak jarang anak berangkat tanpa sarapan, lalu dipaksa berlari atau melakukan aktivitas fisik cukup berat. Ini bukan hanya soal performa di kelas, tapi juga soal keselamatan dan konsentrasi anak.
Orang tua yang paham pentingnya gizi seimbang untuk anak usia sekolah akan memastikan anak sarapan ringan namun bernutrisi sebelum berangkat. Istirahat cukup malam sebelumnya juga sama pentingnya. Dua hal ini langsung berdampak pada kemampuan anak berpartisipasi aktif dan menikmati Penjaskes.
Kesimpulan
Parenting anak SD dalam Penjaskes bukan sekadar urusan sekolah yang diserahkan sepenuhnya kepada guru. Keterlibatan orang tua — mulai dari membangun kebiasaan aktif, menyikapi perkembangan dengan bijak, hingga memastikan nutrisi dan istirahat yang cukup — adalah bagian tak terpisahkan dari keberhasilan anak di mata pelajaran ini.
Penjaskes yang didukung dengan pola asuh yang tepat akan membentuk anak yang tidak hanya sehat secara fisik, tapi juga tangguh, sportif, dan percaya diri. Dan itu adalah bekal yang jauh lebih berharga dari sekadar nilai bagus di rapor.
FAQ
Apa peran orang tua dalam pelajaran Penjaskes anak SD?
Orang tua berperan dalam membangun kebiasaan aktif di rumah, memastikan anak mendapat nutrisi dan istirahat cukup, serta memberikan dukungan emosional agar anak menikmati aktivitas olahraga. Keterlibatan aktif orang tua terbukti meningkatkan motivasi anak untuk berpartisipasi dalam Penjaskes.
Bagaimana cara mendukung anak yang tidak suka pelajaran olahraga?
Mulailah dengan mencari tahu penyebabnya — apakah karena malu, takut cedera, atau kurang percaya diri. Orang tua bisa membantu dengan mengajak anak bermain aktif di rumah secara menyenangkan, tanpa tekanan, agar anak membangun rasa percaya diri sebelum menghadapi aktivitas di sekolah.
Apakah Penjaskes SD hanya menilai kemampuan fisik anak?
Tidak. Penilaian Penjaskes di SD juga mencakup aspek sikap seperti disiplin, kejujuran, kerja sama, dan sportivitas. Anak yang aktif bergerak namun juga menunjukkan karakter positif selama pelajaran akan mendapat penilaian yang lebih menyeluruh dan optimal.


